Orangtua yang sering mengalami konflik antar keduanya dan disaksikan oleh anak mereka akan menghasilkan kejiwaan sang anak yang bisa mendorongnya melakukan hal-hal berpotensi negatif dan di luar batas.
Penelitian di University of California, Los Angeles mempelajari masalah pada kurang lebih dari 2000 keluarga. Hasilnya adalah seorang anak dalam rumah tangga yang kerap terjadi masalah, adalah korban paling ‘empuk’.
Si anak cenderung akan melakukan hal-hal negatif diluar dari kebiasaannya. Emosi anak yang tidak stabil membuat dia mencoba memakai obat-obat terlarang, minum alkohol hingga melakukan seks bebas. Selain itu, kegiatan menyakiti diri sendiri pun sering dia lakukan tanpa sepengatahuan orang lain.
Saran untuk orangtua yang sudah tidak dapat hidup rukun, sebaiknya berpisah. jika perdamaian tidak memungkinkan diadakan, maka hidup berpisah adalah pilihan baik. Karena pertengkaran yang terus menerus terjadi mengakibatkan si anak sakit hati. Kelainan psikologis dan gangguan perilaku akan di alami si anak saat bergaul dengan teman-temannya dan orang lain.
Profesor Kelly Musick, penulis buku “Are Both Parents Always Better than One? Parental Conflict and Young Adult Well-Being”, mengungkap seorang anak yang terlahir dan besar dalam keluarga penuh konflik, dapat menjadi bodoh secara akademis, dan banyak yang mengakhiri sekolahnya.
Dalam usia belia, mereka sudah mencoba untuk merokok, minum alkohol dan melakukan penyimpangan secara seksual yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Hidup dengan kedua orangtua lengkap tidak menjamin jiwa dan mental seorang anak baik. Anak akan lebih mendapat hidup baik bila di asuh oleh satu orang tua yang profesional dari pada dua orang yang bodoh.
